FITO
Senin, 19 Oktober 2026 •
Breaking News

Daya Beli Tertekan, Pasar Properti 2026 Dihadapkan pada Pembeli yang Kian Selektif

Pasar properti Indonesia sepanjang 2026 masih menghadapi tantangan keterjangkauan rumah di tengah kenaikan biaya hidup. Meski kontraksi penjualan rumah primer mulai mengecil, konsumen semakin mempertimbangkan harga, cicilan, dan kemampuan keuangan sebelum membeli hunian.

F

Oleh Fitrianto

Wartawan • FITO

18 Oktober 2026 • 20:05 WIB
5 pembaca
Screenshot 2026-10-12 100833
kawasan perumahan. Keterjangkauan harga dan kemampuan membayar cicilan menjadi pertimbangan penting calon pembeli rumah di tengah dinamika ekonomi 2026. (Foto: Dok. FITO)


KPR Masih Menjadi Penopang Pembelian Rumah

Akses pembiayaan tetap memiliki peran besar dalam pasar hunian nasional.

Bank Indonesia melaporkan bahwa 70,05 persen pembelian rumah di pasar primer pada triwulan II 2026 menggunakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Besarnya pangsa tersebut memperlihatkan bahwa fasilitas kredit masih menjadi jalur utama masyarakat untuk memperoleh hunian baru.

Karena itu, keterjangkauan cicilan, persyaratan uang muka, kepastian pendapatan, dan kemampuan memenuhi ketentuan perbankan menjadi faktor penting bagi kelanjutan pemulihan pasar.

Bagi calon konsumen, pembelian rumah melalui KPR juga perlu memperhitungkan risiko perubahan beban cicilan sesuai ketentuan produk kredit yang digunakan.

Pengembang Menghadapi Tekanan Biaya Konstruksi

Tantangan sektor properti tidak hanya berasal dari sisi konsumen.

Data BPS menunjukkan bahwa Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) kelompok bangunan atau konstruksi pada September 2026 naik 9,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut antara lain berkaitan dengan perkembangan harga aspal, baja tulangan, semen, batu pecahan, dan pasir.

Perubahan biaya material dapat mempersempit ruang pengembang untuk menawarkan harga rumah yang lebih terjangkau, terutama apabila kenaikan biaya tidak dapat sepenuhnya diimbangi melalui efisiensi pembangunan.

Di tengah kondisi permintaan yang belum pulih secara merata, pengembang perlu mempertimbangkan secara cermat penetapan harga, spesifikasi bangunan, lokasi, dan kemampuan keuangan pasar sasarannya.

Hunian Terjangkau Berpotensi Semakin Relevan

Kombinasi antara tekanan biaya hidup, kebutuhan pembiayaan, dan perkembangan harga konstruksi membuat persoalan keterjangkauan rumah semakin penting bagi industri properti.

Hunian dengan harga yang sesuai kemampuan pasar, akses transportasi memadai, dan biaya kepemilikan yang terukur berpotensi menjadi pilihan yang lebih relevan bagi konsumen yang sensitif terhadap pengeluaran.

Namun, pemulihan pasar tidak cukup hanya bergantung pada penawaran rumah dengan harga lebih rendah.

Kepastian pendapatan masyarakat, ketersediaan lapangan kerja, akses pembiayaan yang sehat, dan kebijakan perumahan juga menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi keputusan pembelian.

Memasuki penghujung 2026, tantangan utama industri properti bukan semata bagaimana memperbanyak pembangunan hunian, melainkan bagaimana mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kemampuan finansial yang realistis.

Pasar memang memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Akan tetapi, keberlanjutan pemulihan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat mengubah kebutuhan memiliki rumah menjadi keputusan pembelian yang benar-benar terjangkau.

(FITO Redaksi)

Sumber & Verifikasi Redaksi

Transparansi FITO
Jenis peliputan
Government Data
Editor penanggung jawab
Super Admin
Catatan sumber
Analisis redaksi atas publikasi resmi BI dan BPS, diakses 18 Oktober 2026. Tidak menggunakan wawancara langsung.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi melalui Hak Jawab & Koreksi.

Suka dengan informasi berita ini?

Bagikan langsung ke teman & grup WhatsApp Anda hanya dengan 1 klik.

Reaksi Pembaca:
F

Fitrianto

Wartawan

Fitrianto merupakan wartawan FITO yang bertugas menyajikan informasi aktual, faktual, dan relevan bagi masyarakat. Dalam menjalankan kegiatan jurnalistik, Fitrianto mengutamakan akurasi, verifikasi informasi, keberimbangan berita, serta kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik. Melalui pemberitaan yang informatif dan bertanggung jawab, ia berkomitmen mendukung penyebaran informasi yang berkualitas kepada publik.

Komentar Pembaca 0

Ingin memberikan tanggapan atau komentar pada berita ini?

Masuk untuk Berkomentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama berkomentar!