BOGOR – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengadakan diskusi mendalam bersama para jurnalis senior dan pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat[
Dalam kesempatan tersebut, Founder sekaligus CEO Astronacci Internasional, Prof. Gema Goeyardi, melontarkan pandangan sekaligus kritiknya secara langsung di hadapan Presiden[
Menanggapi hal tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang sangat kuat[
Penyelamatan UMKM dan Bersih-Bersih BUMN
Menjawab kekhawatiran terkait kondisi UMKM dan daya beli masyarakat kelas menengah yang terhimpit, Prabowo menekankan bahwa kebijakannya selalu berorientasi pada rakyat
Prabowo menyatakan telah menghapus utang jutaan rakyat, termasuk tunggakan-tunggakan petani yang sudah puluhan tahun tidak terselesaikan.
Dalam ranah perusahaan pelat merah, Presiden mengungkap langkah berani pemerintah yang telah menutup 328 BUMN demi efisiensi.
Langkah rasionalisasi ini berhasil menghemat sekitar Rp 50 triliun dari pemotongan biaya overhead seperti gaji direksi, sewa gedung, dan mobil dinas.
Pemerintah menargetkan hingga akhir tahun ini akan ada 750 BUMN yang dirampingkan.
Di bawah pengelolaan badan investasi Danantara, perusahaan-perusahaan pelat merah kini mencatatkan keuntungan fantastis; sebagai contoh PT Timah yang keuntungannya melonjak ratusan persen setelah tambang ilegal ditertibkan, dan PT Pupuk Indonesia yang mencatat laba besar meski harga pupuk telah diturunkan.
Target deviden negara pada akhir tahun ini pun dipatok melesat tajam ke angka Rp 200 triliun.
Menghadapi 'Deep State' dan 'Raja Kecil' di Birokrasi
Lebih lanjut, Prof. Gema menyoroti adanya jurang kompetensi dan ego sektoral antar-kementerian yang menyebabkan kebijakan pro-rakyat dari Presiden sering dimanipulasi oleh oknum pelaksana di lapangan.
Menjawab persoalan ini, Prabowo tidak menampik adanya fenomena birokrat nakal yang ia sebut sebagai 'deep state' atau 'raja-raja kecil' di kementerian, yang merasa tak tersentuh karena masa jabatannya jauh lebih panjang daripada pemimpin politik. Untuk mengatasinya, Prabowo berencana melakukan perombakan sistem rekrutmen dan pembinaan birokrat.
Universitas ini nantinya akan menaungi Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang dirombak untuk menjaring lulusan dengan IQ tertinggi se-Indonesia.
Langkah ini diadaptasi dari sekolah administrasi publik (ENA) di Prancis bentukan Napoleon, guna melahirkan administrator meritokratis yang unggul dan berintegritas untuk memimpin negara.
Menutup diskusi, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kepemimpinan yang turun langsung, berani bertanya, dan cek silang data adalah kunci membongkar laporan-laporan birokrasi yang sekadar "Asal Bapak Senang. Keterbukaan informasi dan niat lurus demi rakyat menjadi fondasi utamanya membawa Indonesia menuju target ekonomi unggul di masa mendatang.